Renungkanlah!

image

Renungkanlah!

Memang, tapi bukan lagi masanya mengutuk kemudian mendengkur.
Media mengeroyok kita, kekuatan politik mengkerdilkan kita, power ekonomi mencekik kita, kekuatan militer membumi hanguskan kita. Memang, tapi bukan lagi masanya mengutuk kemudian mendengkur.

Bangkitlah!

Kita punya figur panglima perang macam Kholid yang tidak tersisa seincipun dari tubuhnya melainkan ada luka sayat, tusuk, maupun hujaman tombak. Kita berhak punya basis MILITER yang kuat!

Siapa tidak kenal Umar Bin Khatthab, dengan satu pusat pemetintahan dia atur politik seperempat dunia!
Bukan lagi negara, liga arab, uni eropa, bukan, tapi seperempat dunia! Ketika dua adidaya dunia kala itu, Persia dan Romawi bertekuk lutut di hadapannya! Kita berhak atas politik yang kuat!

Abdur Rahman Bin ‘Auf, siapa yang tidak mengenalnya? Kekayaannya ditinggal demi agama Allah, dia infakkan dia jalan-Nya. Datang ke Madinah dalam keadaan miskin, ditawari harta oleh sahabatnya dia menolak, hanya bertanya, di mana lokasi pasar kalian?
Waw! Jiwa Bisnis seorang muslim!
Kita berhak kaya, karena mereka pun bukan orang miskin! Kita berhak punya basis ekonomi yang kuat!

Pemberitaan masa, media yang membawa opini public kearahnya, siapa tidak tahu metode Imam Bukhori dan Imam Muslim?
Untuk sepenggal berita, mereka kejar sampai ke ujung dunia! Demi kefalitan sebuah berita, dia berjalan kaki menyusuri padang sahara! Demi keontetikan berita, dia amati si pembawa berita siang dan malam!
Kita punya asas dan pondasi media yang kuat! Pemberitaan yang akurat! Kita berhak memilki media Internasional yang menjadi rujukan!

Memang, tapi bukan lagi masanya mengutuk kemudian mendengkur.
Media mengeroyok kita, kekuatan politik mengkerdilkan kita, power ekonomi mencekik kita, kekuatan militer membumi hanguskan kita. Memang, tapi bukan lagi masanya mengutuk kemudian mendengkur.

Bangkitlah!

Tapi, mulai lah semua dengan memakmurkan masjid-masjid di sekitar kita teman! Jaga dan ajak masyarakat kita untuk shalat lima waktu di masjid!
Karena, Rasul merapatkan barisan para mujahidin melalui rapatnya shaf shalat mereka! Rasul mengokohkan iman dan semangat juang dengan isak tangis kala membaca lantunan ayat suci Al-Qur’an!

Makmurkan masjid, untuk menaklukan dunia!

SANTRI; TITEL ABADI UNTUK SEBUAH PENGABDIAN

12592599_1701870970071296_1506074155863759352_n

 

Dalam goresan tinta sejarah, pelajar agama atau yang di negeri kita lebih akrab disapa, “Cah santri,” selalu menempati peranan penting di garis terdepan dalam membela agama, bangsa, dan tanah airnya.

Pada masa konflik atau peperangan misalnya, di Perang Sabil (atau dikenal dengan nama Perang Kemerdekaan) Pasca proklamasi 45, yang berlangsung selama lima tahun (1945 s/d 1950), lebih dari 6.000 (Enam Ribu) Santri gugur di medan juang (Baca, Api Sejarah 2, Ahmad Mansur Surya Negara).

Menyoal perjuangan dan pengorbanan dalam pengabdian kepada agama, bangsa dan tanah air, tentu tidak melulu harus dilakukan dengan mengarahkan moncong senjata ke wajah para penjajah. Namun dalam keadaan damai sekalipun, banyak hal membutuhkan pengabdian untuk meninggikan harkat martabat manusia seabagai makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna.

Kita bisa mengabdi di dunia pendidikan, ekonomi, politik, sosial, atau lainnya. Kita mengabdi dan berjuang dengan lisan dan pena kita. Dengan harta juga tenaga.

Hanya kepada Allah tempat menggantungkan setiap asa. Padanya jua kita kembalikan hasil dari segala daya upaya.

Semoga Allah kuatkan pijakan kami, ikhlaskan hati kami, untuk istiqomah dalam mengabdi. Karena kami telah dan selalu menjadi “Santri, Titel Abadi Untuk Sebuah Pengabdian.”